== Kehilangan Kehormatan Yang Berakibat
Ketaatan ==
Seorang pemuda yang komitmen beragama maju untuk
menikah. Dia mulai mencari calon pasangan perempuan. Syarat satu-satunya adalah
agar dia seorang wanita yang komitmen, berakhlak, dan kuat agama. Dan setelah
melalui pencarian, kini dia telah menemukan gadis tersebut, sebagaimana
ciri-ciri yang diinginkan.
Setelah melamar, dan
ketika ia telah bersiap-siap untuk menikah, tiba-tiba calon mempelai perempuan
menolak dan mengatakan bahwa dia tidak ingin menikah. Keluarganya terheran
melihat keputusannya yang mengagetkan, setelah sebelumnya memberikan
kesanggupan. Pemuda itu meminta sang gadis untuk menjelaskan penolakannya,
namun justru ia membawakan alasan-alasan yang lemah. Setelah itu, perkaranya
ditangani oleh ibunya yang merasa sangat sedih dengan keputusan ini. Terlebih,
pemuda itu terkenal dengan bagus akhlak dan budi pekertinya.
Setelah sang ibu mendesaknya, dia (calon mempelai
perempuan tersebut) berkata kepada ibunya, "Sesungguhnya Allah Maha menutupi
(dosa hamba-hambaNya), dan Dia telah menutupiku. Tinggalkanlah aku dan
urusanku..." Di hadapan desakan sang ibu yang sangat bingung dengan
perkara itu, dia berterus terang kepada sang ibu bahwa dirinya telah kehilangan
kehormatannya, namun dia telah bertaubat. Dan bahwa peristiwa itulah yang
menyebabkan sikap komitmennya terhadap agamanya, sekaligus sebab penolakannya
untuk menikah. Ia meminta ibunya agar merahasiakan perkara itu, dan bahwa ia
akan menebus sebab kesalahannya. Ibunya memikirkan perkara itu dan berkata,
"Putriku! Selama kamu telah bertaubat kepada Allah, sedang Allah menerima
taubat hamba-hambaNya dan memaafkan banyak dosa, maka biarkan aku meminta
pendapat pemuda itu, barangkali ia akan menerima atau menutupinya..."
Setelah melalui musyawarah dan diskusi yang
panjang, gadis itu pun menerima usulan itu. Sang ibu pun pergi, tidak tahu
entah bagaimana akan membuka berita buruk ini kepada sang calon pengantin.
Setelah sempat bimbang, tidak lama kemudian ia meminta supaya pemuda itu
menemuinya.
Ketika pemuda itu datang, ia membuka permasalahan
itu kepadanya dan meminta pendapatnya. Ia menceritakan bahwa putrinya menjadi
komitmen terhadap agama setelah perbuatan itu dan telah bertaubat kepada Allah,
inilah sebab penolakannya untuk menikah...
Pemuda itu berpikir sejenak, kemudian berkata
kepadanya, "Saya sepakat untuk menikah dengannya selama ia telah bertaubat
dan kembali kepada Allah dan istiqamah. Dahulu sebelum komitmenku terhadap
agama, aku sendiri berada dalam kemaksiatan dan kemungkaran. Sementara kita
tidak tahu siapakah yang diterima taubatnya di sisi Allah."
Wajah sang ibu itu berseri mendengar berita gembira
ini dan segera pergi menemui putrinya dengan penuh suka cita, dan dalam waktu
yang bersamaan ia merasa takjub dengan sikap ksatria dan keputusan baik pemuda
itu, lalu memberitahukan kabar gembira itu kepada putrinya. Dan pernikahan pun
terlaksana.
Ketika bertemu, sang wanita banyak menangis.
Sementara bahasa isyaratnya mengatakan, "Betapa engkau laki-laki cerdas.
Aku akan menjadi istri yang taat bagimu." Dan Allah pun mempertemukan
mereka berdua dengan kebaikan.